Ghera: Sahabat Tidak Pernah Pergi

Oleh Nasya

Orang-orang akan selalu datang dan pergi.

Cukup berbuat baik, jangan berharap orang itu terus ada bersama kita.

-Gheazora Naeyfaz

Angin sepoi-sepoi dengan cuaca cerah menghiasi pagi ini. Ghera dan Disa, dua gadis cantik tersebut tampaknya sedang berbahagia saat ini. Melakukan kegiatan rutin setiap pagi di depan kelas, bertukar cerita tentang mimpi mereka semalam. Dari mimpi yang lucu, bahagia, hingga yang sedih pun selalu diceritakan satu sama lain.

Gheazora Naeyfaz namanya, panggilannya Ghera. Gadis cantik dengan karakteristik yang ceria, humoris, dan manja. Di balik sifat manja seorang Ghera, dia juga galak. Kalau udah keluar galaknya, tutup telinga deh, suara cempreng dipadukan dengan mulutnya yang bicara tanpa henti, duh ngebayanginnya aja udah ngeri ya. Hahaha.

Dia sangat tidak suka jika miliknya diambil orang lain, entah itu barang, gayanya, entah orang tersayangnya. Ghera mempunyai seorang sahabat dengan karakteristik yang hampir sama dengannya. Ialah Jedisa Syikara. Bedanya, Disa sedikit tertutup, dengan Ghera sekalipun. Namun hal itu tidak dipermasalahkan oleh Ghera, karena ia sudah 5 tahun bersahabat dengan Disa.

“Ghe sumpah ini ngakak banget perut aku jadi sakit hahahah.”

“Yee orang panik gitu malah diketawain. Ngambek nih.”

“Hahahah bercanda Ghera sayangg ututu..,” ucapan Disa terhenti karena ada yang memanggil namanya.

“Disa! Kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah.” Ucap Grasil, teman sekelas mereka.

Disa membatin, ada apa ya aku dipanggil? “Baik, terima kasih ya, informasi nya.”

“Tumben banget dipanggil ke ruang kepala sekolah,” ujar Ghera.

“Gatau tuh, yaudah Ghe aku ke sana dulu yaah,” pamit Disa.

Sebentar lagi bel berbunyi. Tapi Disa sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di hadapan Ghera.

“Duhh kok Disa lama banget ya? Apa aku susulin aja?” Ghera mulai khawatir.

Saat ingin menyusul Disa, tiba-tiba Disa muncul dihadapannya dengan mata yang sembab. Disa langsung memeluk Ghera dan membuat Ghera kebingungan.

“Kakek aku meninggal, Ghe. Aku sebentar lagi dijemput paman,” jelas Disa sambil menangis.

DEG! hati Ghera terasa sangat sakit mendengarnya.

Seperti yang ia ketahui bahwa Disa sangat dekat dengan sang kakek. Air mata Ghera akan menetes namun ia tahan agar tidak menangis di hadapan Disa agar bisa menguatkan sang sahabat.

Ilustrasi oleh Ratu Sheema

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun, Disaa yang tabah ya. Yuk aku temenin kamu nungguin jemputan.”

***

Hari ini Disa kembali bersekolah setelah dua harikepergian kakeknya. Ghera yang dari tadi pagi sudah menunggu Disa datang, akhirnya yang ditunggu tiba dihadapannya.

“Assalamualaikum, hai Gheraa aku kangen,” ucap Disa sembari memeluk sang sahabat.

“Waalaikumussalam, aku lebih kangen kamu Disaa! Bagaimana keadaan kamu?”

“Alhamdulillah aku baik. Makasih ya udah nemenin dan nguatin aku saat pemakaman kakek.”

“Iyaa sama-sama. Yuk kita ke kelas, udah mau bel nih.”

Mereka berjalan bersama dari depan sekolah hingga ke kelas mereka sambil menceritakan tentang mimpi mereka semalam. Keberadaan Ghera yang ceria di sisi Disa memang bisa membuatnya menjadi bahagia.

“Disa, nanti sore kita ke mall yuk, nanti aku jemput kamu,” ajak Ghera.

“Ayo! aku juga lagi butuh refreshing nih.”

***

Sepulang sekolah, Ghera dijemput oleh supirnya dan sekarang Ghera sudah berada di rumahnya. Ia langsung membersihkan diri dan turun dari kamarnya ke dapur untuk makan siang bersama bundanya.

“Bun, emang harus secepat ini ya? Aku belum siap, Bun.”

“Iya Nak, Bunda tahu ini berat untuk kamu, kita semua. Maafin Bunda dan Ayah ya, Nak. Insyaallah ini yang terbaik untuk kita semua.”

Ghera menganggukkan kepalanya dengan lesu. Pikirannya penuh dengan kekhawatiran dan kesedihan.  Ghera pun melanjutkan makan siangnya dan bergegas beristirahat sejenak.

Setelah shalat ashar, Ghera yang sudah siap dengan penampilannya menghampiri bundanya yang sedang duduk santai di ruang tengah.

“Bunda, Ghera berangkat dulu ya, Assalamualaikum,” ucap Ghera sambil mencium punggung tangan sang Ibu.

“Iya, Nak. Hati hati ya. Jangan pulang terlalu malam. Waalaikumussalam.”

Ghera mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Rumahnya dan rumah Disa juga tak terlalu jauh. Rencananya mereka akan menonton film di bioskop.

Setelah sampai dirumah Disa, Ghera turun dari motornya.

Tok, Tok, Tok

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, eh, ada Non Ghera. Mau jemput Non Disa ya? Tadi Bibi lihat dia sedang minum di dapur. Bibi panggilin ya, Non,” ucap asisten rumah tangga Disa.

Ghera tersenyum dan membalas, “Iya, Bi. Terima kasih.”

***

Tak lama kemudian, Disa keluar dengan outfit-nya yang selalu keren kalau kata Ghera. Kedua sahabat itu mengobrol ringan selama di perjalanan. Setelah sampai di mall, mereka langsung menuju ke bioskop karena jam tayang filmnya sudah dekat. Satu jam kemudian, mereka keluar dari gedung bioskop. Lalu menuju ke salah satu restoran di mall tersebut karena mereka sangat lapar. Sesampainya di restoran, mereka mencari tempat duduk lalu memesan makanan.

Tiba-tiba wajah Disa murung, “Ghe, aku kangen kakek. Dulu kalau lagi makan di restoran kakek selalu duduk di samping aku. Namun, saat dia sakit aku jarang ada disampingnya, aku menyesal, Ghe.”

“Kirim Al-Fatihah yuk buat kakek kamu, kalau kamu kangen sama beliau, kirim doa selalu untuknya. InshaAllah dia ditempatkan di sisi terbaik. Kamu tidak perlu menyesal. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Itu semua takdir Allah, Disa. Kita tidak bisa tahu sampai kapan kita hidup, dan kita akan mati dalam keadaan seperti apa. Tidak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu. Maka dari itu, ikhlas dan bersabar ya, aku tahu kamu bisa. Kakek kamu pasti bangga mempunyai cucu seperti kamu. Kamu itu kuat, Disa. Aku bangga denganmu. Sini peluk dulu,” kata Ghera memberi kekuatan untuk Disa.

Disa membalas pelukan Ghera, “Aamiin, terima kasih Ghera, aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada kamu di samping aku. Pasti aku akan sangat rapuh. Kamu sahabat terbaikku, Ghera. Jangan pernah tinggalkan aku ya, aku harap kita terus seperti ini sampai tua nanti.”

Ilustrasi oleh Ratu Sheema

Keesokan harinya, Ghera berangkat sekolah dengan diantar oleh supirnya seperti biasa. Bedanya, hari ini Ghera tampak tidak bahagia seperti biasanya. Sampainya di kelas, sudah ada Disa yang tersenyum menyambut kehadiran Ghera.

“Selamat pagi, Ghera,” sapa Disa

“Pagi juga, Disa”

“Kamu kenapa murung gitu?”

“Mmm Disa, besok aku sekeluarga akan pindah ke Bandung. Dan ini hari terakhir aku bersekolah disini. Ayah aku baru saja membangun cabang perusahaan baru di Bandung, dan dia sendiri yang akan mengurusnya. Kantor yang di sini akan di kelola oleh paman aku.”

“Ghe, kamu ga bercanda kan?” ucap Disa menahan tangisnya.

“Aku serius. Maafkan aku. Aku juga tidak siap meninggalkan kamu. Tapi aku harus ikut dengan orangtuaku. Jangan lupakan aku ya, Disa?”

“Hiks, Ghera pasti aku gak bakal lupain kamu. Kamu baik-baik ya di sana. Kita harus terus sahabatan.”

“Janji ya, Disa?”

“Aku janji. Udah ah gausah nangis lagi. Kita harus bahagia hari ini,” ujar Disa.

***

Tiga tahun kemudian, seorang gadis cantik kembali menginjakkan kakinya di kota kelahirannya, Medan. Tentu saja ia akan bertemu dengan sahabatnya, Disa. Sebulan setelah kepindahan Ghera kemarin, Disa memutuskan kontak sepihak dengan Ghera tanpa alasan yang jelas. Semua sosial medianya di blokir oleh Disa. Karena itu Ghera ingin langsung bertemu dengan Disa. Bertepatan hari ini adalah hari pertama mereka berkenalan dulu. Setelah mendapatkan mobilnya, Ghera

langsung bergegas ke rumah Disa. Sesampainya di rumah Disa, Ghera langsung disambut ramah oleh asisten rumah tangga Disa. Ghera menghampiri Disa di kamarnya berniat memberikan kejutan dengan membawa sebuah kue kecil.

Tok, Tok, Tok,

“Disaa,” panggil Ghera.

Disa membuka pintu kamarnya. Bisa Ghera lihat dikamar Disa ada Grasil, teman sekelas mereka dulu.

“Hai Disa! Kejutann! Aku kangen sama kamu. Kenapa sosmed aku kamu blokir sih? Nih aku bawain kue buat kamu,” ucap Ghera sembari memeluk Disa.

Tapi, Disa sama sekali tidak membalas pelukan dari Ghera. Ia justru melepaskan paksa pelukan tersebut. Pastinya Ghera kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Disa.

Ilustrasi oleh Ratu Sheema

“Kamu bukan teman aku lagi. Aku sudah mendapatkan teman yang jauh lebih baik dari kamu, yaitu Grasil. Dia perhatian, dewasa, asik, dan seru. Tidak seperti kamu. Manja, baperan. Makan tuh kue! Haha.” Ujar Disa ketus lalu membanting kue itu ke lantai kemudian menutup kencang pintu kamarnya.

Ghera sangat sedih. Hancur, sakit, kecewa, galau, dan rindu bercampur menjadi satu. Saat menyetir, pikiran Ghera kemana-mana.

“Di mana janji kamu Disa? Kenapa kamu begini? Aku salah apa?” Saking sedihnya ia tak sadar bahwa dirinya melanggar lampu merah. Alhasil, truk besar dari arah samping menabrak mobil yang dikendarai Ghera hingga terseret jauh.

Ilustrasi oleh Ratu Sheema

Suara sirine ambulan berdering kencang memenuhi jalanan. Setelah sampai di rumah duka, jenazah yang berada di ambulan tersebut diturunkan dan dibawa masuk ke dalam rumah yang sudah dipenuhi banyak orang tersebut. Yap, rumah duka yang di maksud adalah rumah Ghera.  Jenazahnya adalah Ghera.

Di sana sudah ada keluarga Ghera, juga Disa. Setelah jasad Ghera diletakkan didepan Disa, ia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia menangis tiada henti menyesali atas perbuatannya terhadap Ghera. Ia juga diberikan oleh Grasil surat yang tersalip di kotak kue yang dibawa Ghera. Membuatnya tak sanggup menghirup nafas. Sesak memenuhi dadanya mengingat perkataan Ghera dulu saat menyemangatinya setelah kepergian kakeknya, kisah-kisah bahagia mereka berdua, kekonyolan Ghera, senyum serta pelukan hangat yang diciptakan oleh Ghera terbayang jelas di pandangan Disa.

Ilustrasi oleh Ratu Sheema

“Selamat jalan, sahabat cantikku. Sampai bertemu di surga, Ghera. Orang terbaik yang pernah aku temukan. Maaf aku ingkar janji kepadamu. Maafkan aku yang telah jahat kepadamu, sedangkan kamu tidak ada salah. Terima kasih atas segala kata katamu yang selalu membuatku tenang dan kuat. Aku ikhlas karena kamu, Ghera. Semoga amal ibadah serta kebaikanmu diterima oleh Allah. Aku sayang kamu,” ucap Disa terisak.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *